EBES CONSULTING GROUP

MENYEDIAKAN PELATIHAN PEMBERDAYAAN DIRI BERBASIS TERAPI - CLINICAL HYPNOTHERAPY (2 DAYS) - NLP PRACTITIONER (2 DAYS) - QUANTUM HEALER (1 DAYS) MOBILE : 0821 1141 5165

Senin, 06 Februari 2012

Utilisasi Milton Erickson

Bagaimana mengambil manfaat dari pengalaman diri sendiri, belajarlah kita pada Milton Erickson. Ia mengidap berbagai masalah sejak kecil. Ia buta warna dan buta nada, dan sedikit disleksia. Dan, masih ada lagi, jantungnya berdetak tidak beraturan (arrhytmia). Ia mengalami semua itu sebelum kondisi-kondisi tersebut dikenal oleh orang-orang di daerah pertanian di desa tempat tinggalnya.

Seluruh warna tampak olehnya sebagai warna ungu, dan semua lagu sama belaka dalam tangkapan telinganya. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, ia tidak bisa memahami kenapa orang yang berteriak dan memekik-mekik disebut “menyanyi”. Kesulitan lainnya ia alami dengan disleksia yang diidapnya. Pada umur 6 tahun ia tidak bisa membedakan angka “3” dan huruf “m”. Keterbatasan-keterbatasan itulah yang nantinya mendukung perkembangan minat, sikap, dan pendekatannya terhadap otohipnosis, trance, dan psikoterapi.

Disleksia yang membingungkan sering memberinya momen terpisah dari realitas. Erickson merumuskan momen itu dengan kehadiran cahaya yang menyilaukan atau halusinasi visual dalam situasi otohipnotik. Cahaya itu muncul pertama kali pada momen ketika ia akhirnya bisa membedakan angka 3 dan huruf m. Belakangan ia memaknai kemunculan cahaya dan pengetahuan yang didapatnya pada momen itu sebagai hubungan antara kondisi hipnotik (altered state) dan “cara kita mempelajari sesuatu”. Karena itulah Erickson selalu mengatakan bahwa hipnosis adalah momen pembelajaran.

Mengenai pendekatan terapetiknya ini, Erickson menuturkan bahwa itu bersumber dari pengalamannya dengan disleksia yang membuatnya kesulitan. Sampai duduk di bangku SMA, ia tetap mengalami kesulian dalam melafalkan sejumlah kata. Ia selalu beranggapan bahwa ketika ia mengucapkan “co-mick-alis, vin-gar, goverment, dan mung” itu semua sama persis dengan cara orang-orang lain melafalkan “comical, vinegar, government, dan spoon.” Guru SMA-nya, yang saat itu menjadi pelatih debat antarsiswa, berusaha keras selama berjam-jam untuk melatihnya melafalkan “government”. Dan itu sia-sia belaka.

Dengan ilham yang muncul tiba-tiba, sang guru memintanya mengucapkan nama teman sekelas “La Verne” dan Erickson bisa menyebutkannya dengan baik. Lalu sang guru menuliskan di papan tulis “govLaVernement” dan Erickson membacanya, “govlavernement.” Selanjutnya, guru memintanya membaca dengan menghilangkan “la” dari “La Verne”. Dan terjadilah keajaiban itu: Erickson berhasil melafalkan “government” sebagaimana orang-orang lain melakukannya. “Saat aku melakukannya, cahaya menyilaukan itu datang menyapu semuanya termasuk apa yang tertulis di papan tulis,” katanya. “Aku berterima kasih kepada Nona Walsh untuk teknik itu. Ia memperkenalkan hal yang tak terduga dan tidak relevan demi menghancurkan pola yang kaku dan sekukuh karang.”

Maka, dengan ingatan atas kejadian itu, ketika seorang pasien kepadanya bertahun-tahun kemudian dengan tubuh gemetar dan menangis sesenggukan, Erickson tahu apa yang harus ia lakukan. Orang itu terbata-bata mengatakan, “Saya dipecat. Bosku selalu menindasku. Mereka terus-terusan merendahkanku dan aku selalu hanya bisa menangis. Hari ini bosku berteriak kepadaku mengatakan, ‘Tolol! Tolol! Tolol! Keluar! Keluar!’ Karena itulah aku kemari.”

Dengan sungguh-sungguh dan serius, Erickson mengatakan kepada perempuan itu, “Kenapa kau tidak mengatakan kepadanya bahwa, sekiranya ia mengizinkan, kau akan dengan senang hati melakukan pekerjaanmu dengan cara yang lebih tolol lagi?” Muka perempuan itu tampak kosong, bingung, tercenung, dan kemudian tawanya meledak. Setelah itu percakapan mereka dipenuhi tawa terbahak-bahak. “Dan biasanya itu terjadi dengan sendirinya,” kata Erickson. (Baca: The Art of Misunderstanding)

Semudah itukah terapi dijalankan?

Ya, sebab Erickson memiliki pemahaman yang mendalam terhadap perilaku manusia dan sepanjang hidupnya ia telah melakukan pengamatan yang cermat terhadap aspek-aspek perilaku tersebut. Perempuan itu bisa tertawa terbahak-bahak karena Erickson berhasil membantunya keluar dari situasi yang menghimpit dan menghancurkan pandangan sempit perempuan itu yang melihat dirinya sendiri sebagai korban. Saran yang ia ajukan telah membalikkan situasi psikologis kliennya dari seorang korban menjadi pemegang kendali.
Laksana
 

Sayapun Masih Sering Ditolak

 
 
Saya tidak pernah berminat belajar
pada Guru Sukses yang selalu Sukses.
Karena dia Pembohong besar!
(Krishnamurti Words)
Pernah terpampang kalimat di atas pada dinding Face Book dan Twitter saya sekitar awal tahun 2012 lalu, sebagai jawaban atas pertanyaan seseorang apakah saya tidak pernah salah, tidak pernah kalah, tidak pernah ditolak? Katanya: “Kok, kayaknya Anda sukses selalu aja, sih… Saya mau berguru pada Anda”. Tentu, orang tersebut salah besar hahaha…
Mungkinkah saya selalu sukses?
Mungkinkah saya selalu menang?
Sekali lagi, salah besar.
——-
Tetap saja, saya sering ditolak
Saya yakin tidak ada orang yang selalu sukses, selalu menang. Setiap orang sukses selama masih hidup, pasti tidak hanya mengalami siang yang terang. Suatu saat pasti akan mengalami mendung tebal yang gelap, bahkan hujan badai…
Sikap orang tersebut dalam menyikapi sebuah keadaan buruk, itulah sebuah kompetensi yang dimiliki seorang untuk menang dari keadaan tersebut. Sebuah sikap yang bisa mementalkan sebuah masalah ini disebut Sikap Mental hehehe (ngaco ya).
Berikut beberapa cara pandang saya terhadap (khususnya) apa yang orang awam katakan sebagai penolakan. Semua sudah pernah saya twiterin dan fesbukin, yaitu:
Banyak orang patah arang karena ditolak,
pada hal penolakan justru membuat
saya makin kreatif untuk mencari ide-ide baru
(Krishnamurti Words)
——-
Penolakan itu adalah feedback yang baik
untuk introspeksi diri agar jadi lebih baik.
(Krishnamurti Words)
——-
Justru Penolakan membuat
saya berpikir, berpikir & berpikir lebih keras
untuk cari ilham yang lebih menarik.
(Krishnamurti Words)
——-
Dan Penolakan itu menyadarkan diri
bahwa saya tetap bisa saja salah,
bahkan kalah hehehe
(Krishnamurti Words)
——-
Penolakan tuh sebuah sikap tegas,
dibanding bilang YA tapi maksudnya TIDAK.
(Krishnamurti Words)
——-
Dan Penolakan juga menguatkan saya
bahwa “Aku ini manusia biasa spt Anda, lho!”
(Krishnamurti Words)
——-
Jangan buang waktu untuk cari tahu kenapa ada Penolakan,
tapi secepatnya ubah strategi yang lebih baik.
(Krishnamurti Words)
——-
Penolakan itu berarti
orang yang menolak bisa melihat sesuatu
yang belum dapat saya lihat.
(Krishnamurti Words)
——-
Lha, kalo gitu apa tujuan Tuhan memberikan Penolakan?
Biar potensi kita muncul dengan lebih hebat lagi.
(Krishnamurti Words)
——-
Penolakan justru membuat saya ingin terus belajar
ilmu pengetahuan yang lebih tinggi lagi.
(Krishnamurti Words)
——-
Jangan sampai Penolakan membuat Anda loyo,
justru harus membuat lincah seperti yoyo hehehe
(Krishnamurti Words)
——-
Menolak Penolakan justru menyakitkan,
menerima Penolakan dg ikhlas,
akan menguatkan mental.
(Krishnamurti Words)
——-
Tidak ada yang salah dengan Penolakan,
hanya bisa saja kita mengetuk pintu yang salah hehehe
(Krishnamurti Words)
Saya tidak pernah berminat belajar
pada Guru Sukses yang selalu Sukses.
Karena dia Pembohong besar!
(Krishnamurti Words)
Pernah terpampang kalimat di atas pada dinding Face Book dan Twitter saya sekitar awal tahun 2012 lalu, sebagai jawaban atas pertanyaan seseorang apakah saya tidak pernah salah, tidak pernah kalah, tidak pernah ditolak? Katanya: “Kok, kayaknya Anda sukses selalu aja, sih… Saya mau berguru pada Anda”. Tentu, orang tersebut salah besar hahaha…
Mungkinkah saya selalu sukses?
Mungkinkah saya selalu menang?
Sekali lagi, salah besar.
——-
Tetap saja, saya sering ditolak
Saya yakin tidak ada orang yang selalu sukses, selalu menang. Setiap orang sukses selama masih hidup, pasti tidak hanya mengalami siang yang terang. Suatu saat pasti akan mengalami mendung tebal yang gelap, bahkan hujan badai…
Sikap orang tersebut dalam menyikapi sebuah keadaan buruk, itulah sebuah kompetensi yang dimiliki seorang untuk menang dari keadaan tersebut. Sebuah sikap yang bisa mementalkan sebuah masalah ini disebut Sikap Mental hehehe (ngaco ya).
Berikut beberapa cara pandang saya terhadap (khususnya) apa yang orang awam katakan sebagai penolakan. Semua sudah pernah saya twiterin dan fesbukin, yaitu:
Banyak orang patah arang karena ditolak,
pada hal penolakan justru membuat
saya makin kreatif untuk mencari ide-ide baru
(Krishnamurti Words)
——-
Penolakan itu adalah feedback yang baik
untuk introspeksi diri agar jadi lebih baik.
(Krishnamurti Words)
——-
Justru Penolakan membuat
saya berpikir, berpikir & berpikir lebih keras
untuk cari ilham yang lebih menarik.
(Krishnamurti Words)
——-
Dan Penolakan itu menyadarkan diri
bahwa saya tetap bisa saja salah,
bahkan kalah hehehe
(Krishnamurti Words)
——-
Penolakan tuh sebuah sikap tegas,
dibanding bilang YA tapi maksudnya TIDAK.
(Krishnamurti Words)
——-
Dan Penolakan juga menguatkan saya
bahwa “Aku ini manusia biasa spt Anda, lho!”
(Krishnamurti Words)
——-
Jangan buang waktu untuk cari tahu kenapa ada Penolakan,
tapi secepatnya ubah strategi yang lebih baik.
(Krishnamurti Words)
——-
Penolakan itu berarti
orang yang menolak bisa melihat sesuatu
yang belum dapat saya lihat.
(Krishnamurti Words)
——-
Lha, kalo gitu apa tujuan Tuhan memberikan Penolakan?
Biar potensi kita muncul dengan lebih hebat lagi.
(Krishnamurti Words)
——-
Penolakan justru membuat saya ingin terus belajar
ilmu pengetahuan yang lebih tinggi lagi.
(Krishnamurti Words)
——-
Jangan sampai Penolakan membuat Anda loyo,
justru harus membuat lincah seperti yoyo hehehe
(Krishnamurti Words)
——-
Menolak Penolakan justru menyakitkan,
menerima Penolakan dg ikhlas,
akan menguatkan mental.
(Krishnamurti Words)
——-
Tidak ada yang salah dengan Penolakan,
hanya bisa saja kita mengetuk pintu yang salah hehehe
(Krishnamurti Words)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review | Editor by dwiprazetyo