Trainer & Mind-Therapist

Master Mind Institute of Hypnotherapy (MMIH)

Kamis, 22 Maret 2012

PENGUMUMAN PENTING

PENGUMUMAN

Hasil penelitian menunjukkan Hypnotherapy TERBUKTI EFEKTIF dalam menangani masalah-masalah Psikologis/Mental Emosional sekitar 90% ,daripada pendekatan Psikoterapi lainnya. Hypnotherapy adalah suatu seni dalam melakukan Restrukturisasi Pikiran Bawah Sadar agar memiliki HABIT / Kebiasaan baru yg POSITIF ,PRODUKTIF dan EFEKTIF untuk mendapatkan Perubahan hidup yg lebih SEHAT secara FISIK, MENTAL dan EMOSIONAL.

Masalah yang Kami tangani dengan metode Hypnotherapy, NLP, dan EFT adalah sebagai berikut :
-Menghentikan/mengurangi kebiasaan buruk seperti Merokok,Kebiasaan Gigit Kuku / Jari,Kecanduan Game Online, dll.
- Menurunkan atau Menaikan berat badan
- Menghilangkan / Mengatur stress atau kecemasan yg berlebihan
- Menghilangkan/ Mengurangi ketakutan dan phobia
- Trauma, Sering terbayang pengalaman buruk
- Seksualitas (Frigiditas,Impotensi ,Ejakulasi dini dll)
- Ketidak harmonisan dalam keluarga (Parenting)
- Insomnia & Berbagai penyakit fisik yg di sebabkan oleh pikiran(Psikosomatis)
- Peningkatan Motivasi,Kepercayaan diri
- Anger Management ,mengendalikan Rasa Marah yg mudah meluap
- Depresi,tidak bahagia padahal punya segalanya
- Sport Improvement (Membangun Mental Juara / Goal Setting)
- Menghilangkan Pikiran Negatif
- Menghilangkan Dendam / Sakit Hati
- Panic Attact, tiba-tiba merasa ketakutan,panik tanpa sebab
- Pikiran sering tiba-tiba kosong (Blank),tdk tahu apa yg harus dilakukan
- Menghilangkan Kebiasaan Suka Menunda-nunda
- Perilaku Adiksi / Ketergantungan atau Kecanduan Obat-obatan / Alkohol
- Kesulitan Konsentrasi dan Mudah Lupa
- Tidak bisa memaafkan orang lain
- Menghilangkan Mental Block/Limiting Belief yg negatif
- dll.
Ebes Supriyanto MCHt, beliau sudah menekuni dunia pengembangan diri berbasis NLP dan Hypnoterapi selama bertahun-tahun yang merubah dirinya menjadi lebih baik dan luarbiasa, dan menerapi banyak klien dalam mengatasi rasa minder, pobhia, sampai kasus kejiwaan seperti trauma dan konflik keluarga, dll. Beliau siap menularkan ilmu dan energinya kepada anda baik dalam karir, bisnis, sosial, keluarga, maupun kejiawaan dan spiritual.
Ebes Supriyanto:
Members Indonesian Board of Hypnotherapy
Members School of Mind Reprogramming
Members Master Mind Institute of Hypnotherapy
Pendiri Warung Makan Sedap Malam
Pendiri Warung Online Ghiza.net
Master Trainer MMIH
Master Trainer HR Empowering Indonesia
Salam PERUBAHAN..!
Master Mind Institute of Hypnotherapy ( MMIH )
Alamat kantor/klinik:
Jl. Raya sultan hasanudin no.123A Tambun - Bekasi (depan yayasan YAPINK)
telP: 02146524534/085219448184

Minggu, 12 Februari 2012

NLP PRESUPPOSITION

PRINSIP BERPIKIR DAN BERPERILAKU 

UNTUK HIDUP SUKSES DAN BAHAGIA

Neuro-Linguistic Programming adalah sebuah study mengenai excellence. Untuk mencapai excellence ini maka sejumlah asumsi mengenai realitas dibuat dimana asumsi-asumsi ini di presuppose atau dianggap benar. Asumsi-asumsi yang dianggap benar ini kemudian disebut dengan presupposition yang menjadi dasar pijakan dalam Neuro-Linguistic Programming. Presuposisi ini apabila diintegrasikan dalam pola berpikir dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari maka akan membantu seseorang dalam melakukan transformasi dalam hidupnya menuju kehidupan yang lebih sukses dan lebih bahagia.
Berikut ini disajikan beberapa presuposisi yang diambil dari rujukan NLP training The Society of NLP, USA, sebagai berikut:
The ability to change the process by which we experience reality is more often valuable than changing the content or experience of reality.
  • Kemampuan untuk merubah proses dimana kita mengalami realita lebih sering bernilai dibanding dengan merubah isi atau pengalaman dari realita tersebut.
Kemampuan seseorang dalam merubah proses tentang bagaimana pikiran bekerja dalam menghadapi stimuli eksternal atau stimuli internal dan memberikan respon yang tepat adalah lebih bernilai dibandingkan dengan hanya merubah isi pengalaman dalam memori pikiran orang tersebut. Singkatnya, presuposisi ini menekankan pada perubahan inti (core) dari suatu permasalahan, bukan menitikberatkan pada perubahan gejalanya (symptom).
The meaning of the communication is the response you get.
  • Makna dari komunikasi adalah respon yang Anda peroleh.
Makna utama dari sebuah komunikasi adalah respon yang ingin kita dapatkan. Apabila respon yang diberikan oleh partner bicara kita bertolak belakang dengan respon yang ingin kita dapatkan maka hal itu berarti bahwa cara berkomunikasi kita tidak tepat untuk mendapatkan respon yang diinginkan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu kepekaan indrawi untuk mengetahui apakah komunikasi yang kita lakukan tersebut sudah sesuai atau belum. Apabila belum, maka diperlukan adanya suatu fleksibilitas sampai memperoleh respon yang diinginkan dengan cara merubah cara komunikasi kita.
All distinction human beings are able to make concerning our environment and our behaviour can usefully represented through the visual, auditory, kinesthetic, olfactory, and gustatory senses.
  • Semua pembedaan yang dapat dilakukan manusia sehubungan dengan lingkungan eksternal dan perilakunya dapat diwakilkan secara bermanfaat melalui indera penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan pengecapan.
Pikiran merepresentasikan informasi yang diperoleh melalui input internal dan input eksternal dalam bentuk gambar (visual), suara (auditory), perasaan (kinesthetic), bau/wangi (olfactory), dan rasa (gustatory). Kemampuan untuk merepresentasikan dan mengorganisir informasi ini secara bermanfaat dan bersumber daya akan membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lain.
The resources an individual needs to effect a change are already within them.
  • Sumber daya yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk menghasilkan perubahan sudah ada dalam diri mereka.
Dalam diri setiap individu telah memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan. Banyak orang tidak mengetahui hal ini sehingga tidak dapat menggunakan sumber daya ini untuk melakukan suatu perubahan yang diinginkan. Body and mind (badan dan pikiran) adalah contoh konkrit dari sumber daya yang ada dalam diri setiap orang. Kemampuan untuk menggunakan kedua sumber daya ini dengan baik dan benar akan sangat membantu dalam menghasilkan perubahan yang diinginkan.
The map is not the territory.
  • Peta bukanlah wilayah yang sebenarnya.
Neuro-Linguistic Programming mengasumsikan bahwa orang berperilaku berdasarkan apa yang dipersepsikannya mengenai dunia luar, bukan berdasarkan pada realitas yang sebenarnya. Persepsi yang dibuat merupakan representasi atau perwakilan dari dunia luar yang ada di dalam otaknya. Persepsi inilah yang kemudian disebut dengan peta. Menurut Alfred Korzibski, orang yang mempopulerkan istilah “the map is not the territory”, sebuah peta bukanlah wilayah yang sebenarnya dari wilayah yang diwakilkannya, namun, apabila peta tersebut memiliki struktur yang sama dengan wilayah yang diwakilinya, maka peta ini akan sangat bermanfaat.
The positive worth of the individual is held constant, while the value and appropriateness of internal and/or external behaviour is questioned.
  • Nilai positif dari seseorang dipertahankan secara konstan, sementara nilai dan kesesuaian dari perilaku internal dan/atau eksternal yang dipertanyakan.
Setiap orang memiliki nilai positif dari perilaku yang dilakukannya. Dalam Neuro-Linguistic Programming, nilai positif ini dipertahankan secara konstan karena dapat menjadi sumber daya yang bermanfaat. Namun, perilaku yang dilakukan harus dipertanyakan apakah sudah sesuai dengan konteksnya atau belum, ekologis atau tidak, membawa dari present state menuju desired state atau tidak, dan lain sebagainya.
There is a positive intention motivating every behavior; and a context in which every behaviour has value.
  • Ada sebuah niat positif yang mendasari setiap perilaku; dan ada sebuah konteks yang sesuai untuk sebuah perilaku dimana perilaku tersebut bernilai/bermanfaat.
Apapun perilaku yang dilakukan seseorang, selalu ada niat positif dibalik perilaku tersebut. Suatu perilaku dikatakan tidak congruent atau tidak selaras apabila digunakan di dalam konteks yang salah. Hal ini dapat terjadi karena tidak ada satu perilaku yang cocok untuk seluruh konteks. Namun, selalu ada sebuah konteks yang sesuai dengan suatu perilaku tertentu yang mana kesesuaian ini akan menghasilkan nilai atau manfaat bagi orang tersebut. Contoh sederhana untuk presuposisi ini adalah perilaku “lupa”. Dalam konteks ujian, lupa adalah suatu perilaku yang sangat tidak bermanfaat. Namun, dalam konteks trauma, kemampuan untuk melupakan kejadian traumatis adalah suatu hal yang sangat bermanfaat.
Feedback vs. Failure – All results and behaviour are achievements, whether they are desired outcomes for a given task/context or not.
  • Umpan balik vs. Kegagalan – Semua hasil dan perilaku adalah pencapaian, terlepas apakah hasil atau perilaku tersebut adalah outcome yang diinginkan atau tidak dalam suatu lingkup pekerjaan/konteks.
Presuposisi ini menekankan bahwa apabila suatu perilaku tidak menghasilkan outcome yang diinginkan maka hal itu bukanlah kegagalan namun merupakan suatu feedback atau umpan balik yang menjelaskan bahwa apa yang dilakukan tidak membawa pada pencapaian outcome yang diinginkan. Selain itu, setiap output yang dihasilkan dari sebuah perilaku adalah suatu pencapaian juga. Namun, pertanyaannya adalah apakah pencapaian itu diinginkan atau tidak diinginkan. Dengan mengetahui bahwa umpan balik yang dihasilkan tidak mengarah pada hasil yang diinginkan maka dapat dilakukan penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan sampai outcome yang diinginkan tercapai.

by:Tatang

Senin, 06 Februari 2012

Utilisasi Milton Erickson

Bagaimana mengambil manfaat dari pengalaman diri sendiri, belajarlah kita pada Milton Erickson. Ia mengidap berbagai masalah sejak kecil. Ia buta warna dan buta nada, dan sedikit disleksia. Dan, masih ada lagi, jantungnya berdetak tidak beraturan (arrhytmia). Ia mengalami semua itu sebelum kondisi-kondisi tersebut dikenal oleh orang-orang di daerah pertanian di desa tempat tinggalnya.

Seluruh warna tampak olehnya sebagai warna ungu, dan semua lagu sama belaka dalam tangkapan telinganya. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, ia tidak bisa memahami kenapa orang yang berteriak dan memekik-mekik disebut “menyanyi”. Kesulitan lainnya ia alami dengan disleksia yang diidapnya. Pada umur 6 tahun ia tidak bisa membedakan angka “3” dan huruf “m”. Keterbatasan-keterbatasan itulah yang nantinya mendukung perkembangan minat, sikap, dan pendekatannya terhadap otohipnosis, trance, dan psikoterapi.

Disleksia yang membingungkan sering memberinya momen terpisah dari realitas. Erickson merumuskan momen itu dengan kehadiran cahaya yang menyilaukan atau halusinasi visual dalam situasi otohipnotik. Cahaya itu muncul pertama kali pada momen ketika ia akhirnya bisa membedakan angka 3 dan huruf m. Belakangan ia memaknai kemunculan cahaya dan pengetahuan yang didapatnya pada momen itu sebagai hubungan antara kondisi hipnotik (altered state) dan “cara kita mempelajari sesuatu”. Karena itulah Erickson selalu mengatakan bahwa hipnosis adalah momen pembelajaran.

Mengenai pendekatan terapetiknya ini, Erickson menuturkan bahwa itu bersumber dari pengalamannya dengan disleksia yang membuatnya kesulitan. Sampai duduk di bangku SMA, ia tetap mengalami kesulian dalam melafalkan sejumlah kata. Ia selalu beranggapan bahwa ketika ia mengucapkan “co-mick-alis, vin-gar, goverment, dan mung” itu semua sama persis dengan cara orang-orang lain melafalkan “comical, vinegar, government, dan spoon.” Guru SMA-nya, yang saat itu menjadi pelatih debat antarsiswa, berusaha keras selama berjam-jam untuk melatihnya melafalkan “government”. Dan itu sia-sia belaka.

Dengan ilham yang muncul tiba-tiba, sang guru memintanya mengucapkan nama teman sekelas “La Verne” dan Erickson bisa menyebutkannya dengan baik. Lalu sang guru menuliskan di papan tulis “govLaVernement” dan Erickson membacanya, “govlavernement.” Selanjutnya, guru memintanya membaca dengan menghilangkan “la” dari “La Verne”. Dan terjadilah keajaiban itu: Erickson berhasil melafalkan “government” sebagaimana orang-orang lain melakukannya. “Saat aku melakukannya, cahaya menyilaukan itu datang menyapu semuanya termasuk apa yang tertulis di papan tulis,” katanya. “Aku berterima kasih kepada Nona Walsh untuk teknik itu. Ia memperkenalkan hal yang tak terduga dan tidak relevan demi menghancurkan pola yang kaku dan sekukuh karang.”

Maka, dengan ingatan atas kejadian itu, ketika seorang pasien kepadanya bertahun-tahun kemudian dengan tubuh gemetar dan menangis sesenggukan, Erickson tahu apa yang harus ia lakukan. Orang itu terbata-bata mengatakan, “Saya dipecat. Bosku selalu menindasku. Mereka terus-terusan merendahkanku dan aku selalu hanya bisa menangis. Hari ini bosku berteriak kepadaku mengatakan, ‘Tolol! Tolol! Tolol! Keluar! Keluar!’ Karena itulah aku kemari.”

Dengan sungguh-sungguh dan serius, Erickson mengatakan kepada perempuan itu, “Kenapa kau tidak mengatakan kepadanya bahwa, sekiranya ia mengizinkan, kau akan dengan senang hati melakukan pekerjaanmu dengan cara yang lebih tolol lagi?” Muka perempuan itu tampak kosong, bingung, tercenung, dan kemudian tawanya meledak. Setelah itu percakapan mereka dipenuhi tawa terbahak-bahak. “Dan biasanya itu terjadi dengan sendirinya,” kata Erickson. (Baca: The Art of Misunderstanding)

Semudah itukah terapi dijalankan?

Ya, sebab Erickson memiliki pemahaman yang mendalam terhadap perilaku manusia dan sepanjang hidupnya ia telah melakukan pengamatan yang cermat terhadap aspek-aspek perilaku tersebut. Perempuan itu bisa tertawa terbahak-bahak karena Erickson berhasil membantunya keluar dari situasi yang menghimpit dan menghancurkan pandangan sempit perempuan itu yang melihat dirinya sendiri sebagai korban. Saran yang ia ajukan telah membalikkan situasi psikologis kliennya dari seorang korban menjadi pemegang kendali.
Laksana
 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review | Editor by dwiprazetyo